Berita

Lagu Juada dan Kota Wisata Olahraga Menggema Oleh Novia Pada Pembukaan Porprov XV Sumsel

24
×

Lagu Juada dan Kota Wisata Olahraga Menggema Oleh Novia Pada Pembukaan Porprov XV Sumsel

Sebarkan artikel ini

bidikcamera.com, Sekayu – Novia Wulandari yang lahir pada 13 September 1996 di Plakat Tinggi, Musi Banyuasin adalah sosok penggiat seni yang telah menorehkan jejak mendalam dalam dunia musik dan budaya daerah. Sebagai penyanyi, pencipta lagu, pemain musik, penembang, dan pesenjang yang konsisten mengangkat seni tradisi Muba ke panggung kehormatan, menjadikannya bukan sekadar hiburan, tetapi identitas.

Dalam pembukaan Porprov XV Sumsel 2025 di Kabupaten Musi Banyuasin, Novia tampil bukan hanya sebagai pengisi acara, tetapi sebagai representasi jiwa daerah. Dua lagu ciptaannya—“Juada” dan “Kota Wisata Olahraga”—menjadi bagian dari komposisi musik latar dalam tari kreasi massal 1000 penari, menyatukan gerak dan irama dalam satu persembahan megah yang membuka Porprov dengan semangat lokal yang membara.

Tak hanya berkarya, lulusan cumlaude dari Prodi Sendratasik Universitas PGRI Palembang ini juga aktif sebagai juri dalam berbagai ajang seni lokal—dari lomba desa dalam perayaan 17 Agustusan hingga lomba nyanyi dangdut Muba Expo dan juri lomba senjang Festival Randik.

Perannya sebagai pelatih vokal di Sanggar Belia dan pelatih senjang di Sanggar Sak Ayu di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muba, menjadikan senjang dan seni daerah sebagai warisan yang terus hidup dan berkembang.

Karya-karya Novia seperti Festival Randik, Indu Rentue, Beume, dan lainnya bukan sekadar lagu, melainkan narasi hidup masyarakat Muba yang dikemas dalam nada dan irama. Ia telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya Juara 1 Senjang Festival Randik 2018 dan Anugerah Seniman Muba kategori Musik 2023.

Kehadirannya di Porprov XV bukan sekadar menyanyi, tetapi membuka hati masyarakat akan pentingnya merawat dan membanggakan warisan seni budaya Muba. Novia Wulandari adalah suara yang tak hanya terdengar, tapi dirasakan—mengalun dari panggung ke jiwa, dari tradisi ke masa depan. (Rls_red-bc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *